Aku berdiri diambang kerapuhanku. Aku
merbangkan sesak yang terasa didadaku. Ia telah pergi meninggalkanku. Ia telah
lenyap dari hadapanku dan meninggalkan luka dihatiku. Perlahan aku memasukkan
semua sampah kenangan itu kedalam kantong besar. Walau sedikit perih, tapi aku
harus membuat boneka teddy bear yang besar itu dari hadapanku. Saat tanganku
memasukan itu satu persatu. Satu foto membuat kenangan itu seakan berputar di
benakku. Kenangan saat aku bersamanya di bali.“Sayang, sini.” Teriaknya. Aku
masih terlihat asik di pinggir pantai duduk berteduh dibawah pohon. Aku takut,
jika aku keluar kulit putihku akan terbakar mendadak. Aku menggelengkan kepala
tanda tak setuju untuk berjemur dibawah sinar matahari yang ia lakukan. Walau
air pantai itu sedikit menggiurkan.
Karena aku tak juga
beranjak, ia pun berlari kearahku. Dengan cepat ia mengangkatku dan membawaku
ke air pantai yang menggiurkan itu.
“Gilang!” Bentakku manja saat ia
menjeburkan aku ke air pantai. Dengan usil ia tertawa dengan penderitaanku.
“Lagian kamu, kamu yang pengen ke Bali.
Kamunya malah duduk-duduk doang dipasir.” Protesnya. Aku pun cemberut karena
melihatnya tak henti menertawakanku.
“Iya… iya… sorry.” Sautnya seraya
membantuku berdiri. Belum tegap ia berdiri, ingin rasanya aku balas dendam.
Dengan cepat aku mendorongnya dan membuatnya tersungkur di air pantai yang
basah.





i
