Halaman

21 Februari 2012

Terima Kasih


19 Februari 2009.
      Pertama kalinya kita bertemu. Masih ingatkah kau wajah geram si ‘Kakek Sihir’ menyebalkan yang sama-sama kita kerjai waktu itu? Aku sangat menikmati setiap detik yang kurasakan saat itu. Bukan hanya menikmati rasanya membalas dendam kepada orang yang selalu melarang kebebasan kakiku untuk berjalan kemana-mana, tapi juga menikmati genggaman tanganmu ketika kau membawaku kabur dari sangkar emas yang selama ini mengurungku.
      Saat itu aku sama sekali tidak berpikir akan suatu hal jahat yang mungkin saja akan kau lakukan padaku ketika kau membawaku pergi. Yang kurasakan saat itu hanya kenyamanan, dan kebebasan yang akhirnya aku dapatkan. Padahal kita baru pertama kali bertemu, namun kau sudah memberikanku sesuatu hal yang sangat aku inginkan dari dulu.
      Aku bersyukur pada takdir yang mempertemukan kita. Takdir indah, juga menyenangkan. Takdir yang membawa kau masuk ke rumahku diam-diam untuk mengambil bola basketmu yang melambung terlalu jauh hingga ke halaman rumahku. Takdir yang memberikan rasa penasaran yang tinggi kepadamu untuk mengelilingi sebentar halaman rumahku yang waktu itu kau anggap indah, juga menakjubkan. Takdir yang menuntun kedua kakimu untuk sampai ke dekat kamarku, dan akhirnya kau melihat aku yang sedang berurai air mata di dekat jendela. Kau mendekat, dan bertanya padaku apa yang terjadi, dan saat itu untuk pertama kalinya aku punya seseorang untuk berbagi cerita. Beban yang kurasakan akhirnya berkurang untuk pertama kalinya. Semua tetes air mata yang aku jatuhkan setiap aku bercerita, selalu kau hapus dengan jemari tanganmu. Setiap kata demi kata yang menunjukkan kekesalanku pada peraturan yang mengikat selalu kau sahuti dengan kalimat yang mampu membuatku tertawa. Kau memang pendengar, sekaligus penghibur yang baik. Terima kasih!





23 Februari 2009.
      Ini adalah hari keempat semenjak kau membawaku untuk tinggal di rumahmu. Rumah yang penuh kehangatan, kegembiraan, dan terutama kebebasan. Memang tidak besar, namun nyaman. Aku akan senang jika bisa selamanya tinggal disini.
      Selama beberapa hari ini, kau telah mengajarkanku banyak hal yang tak bisa kupelajari di rumah. Masak, mencuci, makan dengan tangan, dan masih banyak hal lainnya. Kau yang mengajarkanku bagaimana untuk menjadi manusia yang bebas. Kau bahkan mengajakku melihat sisi lain dari dunia yang tak pernah aku tahu. Kau membuatku merasakan bagaimana kotor sekaligus menyenangkannya menanam padi. Kau mengajakku merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang nelayan, penjual gorengan, bahkan pembersih tempat ibadah. Semua hal itu menyenangkan. Entah karena merupakan hal yang pertama kali aku lakukan, atau karena aku melakukannya bersama-sama denganmu, yang jelas aku menikmatinya. Terima kasih!


25 Februari 2009.
      Aku menikmati setiap waktuku disini, terlebih saat bersamamu. Aku sadar, kau bukan hanya telah masuk ke permukaan hidupku. Kau sudah masuk hingga jauh ke dalam, dan lebih dalam lagi. Setiap detak jantung, denyut nadiku, serta aliran darahku, semuanya berubah menjadi cepat ketika kau ada di sampingku. Senyum, tawa, candamu begitu mudah melarutkanku dalam keadaan yang kau ciptakan, hingga aku merasa dunia ini hanya punya kau dan aku. Kau yang tidak pernah lelah membantu, mengajari, dan memperbaiki segala kesalahanku membuatku sadar bahwa aku mungkin tidak akan bisa hidup dengan baik jika kau tidak ada. Dan sampai akhirnya aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Kau tahu? Ini adalah rasa terindah seumur hidupku. Dan kau orang pertama yang memberikanku rasa yang indah itu. Terima kasih!


27 Februari 2009.
      Kau menyuruhku untuk pulang ke rumah menemui ayahku yang mungkin saat ini tengah khawatir mencariku. Tentu saja aku tak mau. Pulang ke rumah adalah hal terakhir di dunia yang aku inginkan. Pulang ke rumah, sama saja kembali ke sangkar. Kebebasan yang akhrnya aku dapatkan akan menjadi kenangan semata, dan tak akan dapat kurasakan kembali. Terlebih setelah kembali ke rumah, aku belum tentu dapat bertemu lagi denganmu. Tentu saja aku sangat tak mau hal-hal itu terjadi.
      Aku memang menyayangi ayahku, tapi aku juga merasa terkekang. Ia memperlakukan aku seperti seekor burung. Burung emas yang juga tinggal di sebuah sangkar emas. Sekalipun diberi pelayanan, dan makanan mewah, tapi tetap tidak akan bahagia. Apa gunanya sayap jika tidak digunakan untuk terbang? Apa gunanya kaki jika hanya dipakai untuk berjalan di dalam rumah? Untuk apa diciptakan semua itu jika hanya dipakai sebagai pelengkap tubuh?
      Sebanyak apapun aku meminta, sekeras apapun aku memohon, ayah tak pernah mendengarkanku aku. Ia hanya percaya, dan menuruti egonya, sama sekali tidak memikirkan aku. Untuk apa aku tinggal ditempat yang hanya dapat membuatku sengsara seperti itu?
      Namun kau dengan segala cara tetap berusaha membujukku untuk pulang. Sekeras apapun aku menolak, sekeras itu juga kau berusaha meyakinkanku. Aku masih ingat setiap kata demi kata yang kau ucapkan untuk menyemangatiku dulu. Kau bahkan sampai berjanji akan membantuku berbicara dengan ayahku. Kau berjanji akan selalu mengunjungiku, dan menemaniku di kala aku bosan. Dan kau lah orang yang akhirnya memberikan aku keberanian untuk menghadapi mereka. Terima kasih!


28 Februari 2009.
      Akhirnya setelah menyiapkan hati, dan mental aku melangkah masuk ke dalam rumahku. Kuketuk pintu besar itu, dan seseorang membukakannya. Dialah si ‘Kakek Sihir’ yang menyebalkan, kaki tangan ayahku. Galak, dan tak berperasaan, itu kesanku selama ini tentangnya. Pak Hadi, nama lelaki pria ini, langsung menyuruh dua anak buahnya untuk melapor pada ayahku. Hidupku di rumah ini memang penuh dengan penjaga, dan pelayan, bak putri pada zaman kerajaan dahulu kala.
      Jujur saja, jantungku berdetak bukan hanya cepat, tapi juga keras. Aku takut ayahku masih bertahan dengan sikapnya dulu. Kembali ke rumah ini, hanya akan mendapatkan dua kemungkinan, yaitu kembali ke saat-saat di sangkar emas dulu, atau menjadi lebih bebas karena luluhnya ayahku.
      Kau yang saat itu tahu akan kegugupanku, langsung menggenggam tanganku. Sorot matamu yang memandangku seolah-olah berkata, “Tenang saja. Percaya, dan semua akan baik-baik saja.” Kalau boleh aku akui, caramu waktu itu berhasil. Aku menjadi sedikit lebih tenang, dan yakin.
      Ayah keluar, dan PLAK!! Sebuah bekas tamparan tercetak di pipi kirimu. Aku sangat kaget, dan tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kau tak membalas, dan hanya diam. Tak ada sedikitpun emosi terpancar dari wajahmu. Segala caci maki terus saja keluar dari mulut ayahku untukmu. Aku sudah berusaha menenangkan ayah, dan mencoba memintanya untuk berhenti, namun beliau malah balik menamparku. Ia menyuruh anak buahnya untuk membawaku masuk ke dalam rumah. Tentu saja aku meronta. Aku kembali memohon, bahkan sampai menangis untuk meminta pengertian ayahku, tapi percuma.
      Kau yang terus berusaha menarik tanganku, mencoba menjelaskan pada ayahku, dan bahkan mencoba membawaku kabur lagi malah akhirnya mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari anak buah ayahku. Melihat wajahmu yang memar, dan kesakitan membuatku merasa sangat perih. Entah keberanian yang datang darimana, saat itu mulutku langsung mengucapkan hal yang seratus persen berbeda dengan kata hatiku. Aku berjanji pada ayahku akan menuruti segala perintahnya, asal beliau juga berjanji akan melepaskanmu. Keputusanmu yang memang menyakitkan, namun itulah satu-satunya pilihan.
      “Jangan lakukan hal yang tidak membuatmu bahagia, Shellia. Kau layak untuk bebas, juga bahagia. Aku menyukaimu, dan aku ingin gadis yang kusuka bahagia. Kau pikir apa arti dari segala hal yang kulakukan selama ini untukmu? Tolong jangan buat semua itu menjadi sia-sia. Perjuangkan hal yang seharusnya kau dapatkan, dan aku akan membantumu, walau aku juga harus ikut menderita,” katamu waktu itu. Setiap kata yang indah, dan bahkan dapat kuingat hingga saat ini. Namun sayang, aku terlalu penakut untuk melakukan hal itu. Ayah merupakan orang yang dapat melakukan hal apapun yang ia inginkan. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpamu jika aku tidak menuruti keinginan ayahku. Karena itu maaf. Walau hanya sejenak, namun kebebasan yang kau berikan waktu itu sungguh indah. Bantuanmu, juga kenyataan karena ternyata kau memiliki perasaan yang sama kepadaku cukup membuatku bahagia. Terima kasih!


21 Maret 2009.
      Sudah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu aku tidak bertemu denganmu. Rindu? Tentu saja iya! Entah apa yang sedang kau lakukan di sana. Apakah kau juga rindu padaku? Apakah rasamu masih tetap sama untukku? Tidak ada yang tahu, namun aku berharap jawabannya iya.
      Aku ingin bertemu, tapi tentu saja aku tak boleh egois. Resiko untuk bertemu sangatlah besar. Kisah ini memang rumit, serumit tumpukan benang yang kusut. Entah harus seberapa besar kesabaran juga seberapa lama waktu yang diperlukan untuk membuatnya teratur.
      Tiba-tiba wajahmu muncul dari balik jendela kamarku. Aku yang sedang termenung menghadap kesana, tentu saja kaget setengah mati. Kau menggerakkan tanganmu sebagai pertanda agar aku mendekat. Dengan senyum jahil kau mengajakku untuk pergi lagi dari rumah ini sambil berbisik. Tawaran yang menyenangkan, tapi apakah aku berani mengambil resiko yang besar ini? Waktu itu kami beruntung karena Pak Hadi sedang lengah, dan tak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku akan kabur. Namun kali ini, pasti ayah akan memperketat penjagaaanku. Jika sampai kita ketahuan, ayah bukan hanya membuat memar wajahmu, namun bisa saja sampai membunuhmu. Aku tidak bercanda, malah sangat serius. Tapi kau dengan wajah tanpa gentar, tetap mengajakku untuk pergi.
      “Yang penting kau bahagia,” katamu. Air mataku menetes. Aku bahagia, juga sedih. Kenapa hidupku harus seberat ini?
      Sebenarnya hal ini bukan sepenuhnya salah ayahku. Ia hanya trauma. Dulu, ibuku yang sedang sakit pernah melarikan diri dari rumah karena bosan dengan sikap ayahku yang memang dari dulu terlalu overprotective. Tapi saat itu, hal yang sangat tidak diinginkan terjadi. Ibuku yang sedang menyeberang, tiba-tiba di tengah jalan kepalanya terasa pusing lalu berhenti sejenak. Ia tidak sadar ada sepeda motor yang sedang gila-gilaan mengebut ke arahnya. Dan itulah saat terakhir ibuku ada di dunia. Karena kejadian itu, kondisi jiwa ayah jadi sedikit terganggu. Sikap overprotectivenya menjadi berkali-kal lipat kemudian ditujukan padaku sebagai putri semata wayangnya. Ia menganggap dunia luar sangat berbahaya untuk wanita. Ia juga menganggap aku adalah gadis yang lemah, dan harus dilindungi. Dan pada akhirnya jadilah seperti ini. Aku tidak diijinkan pergi kemana-mana, kesannya seperti dikurung dari dunia luar.
      Kau mengetuk jendelaku berkali-kali untuk menyadarkanku dari lamunanku. Sekali lagi kau ucapkan kata-kata itu dengan sorot mata yang bersungguh-sungguh. Ya, aku dapat dengan jelas melihatnya. Tanpa memberi jawaban, aku berbalik dan mengganti dress biruku dengan kaos, dan celana pendek biasa. Pelan-pelan aku membuka jendelaku. Kau menyuruhku untuk melompat pelan-pelan, seperti yang pernah kami lakukan pertama kali. Hup! Mendarat dengan sukses. Welcome back to my freedom! batinku senang.
      “Mau kemana kalian?” hardik seseorang yang membuatku terlonjak kaget. Lagi-lagi hal yang tidak kita inginkan terjadi. Ayahku berdiri dengan tegap depan kita, dengan beberapa penjaga dan anak buahnya. Kau tahu apa yang dipegangnya? PISTOL!!
      Ia mengacungkan pistol itu ke arahmu, lalu bersiap untuk menembak. Aku berdiri di depanmu, merentangkan tanganku, bermaksud untuk menghalangi tindakan gila yang mungkin saja akan ayahku lakukan. Tapi kau melarangku. Kau berbisik padaku biar kau saja yang menghadapinya. Sudah berkali-kali kukatakan bahwa ayahku adalah orang yang tegas, dan tidak akan segan-segan kepada siapapun, tapi kau tetap tak peduli.
      Dengan berani kau merangkulku dengan tangan kananmu, lalu berkata, “Aku sayang pada putrimu. Aku dapat membahagiakannya melebihi kau, dan aku jamin itu. Pernahkah kau berpikir bagaimana hidupnya bersamamu? Pernahkah kau bertanya apa dia bahagia? Aku hanya mohon, tolong hargai juga perasaannya. Ia bukan hewan, ia manusia yang juga butuh kebebasan.” Ah, lagi-lagi kata-kata yang manis. Aku tak dapat lagi membendung air mataku haruku. Kulihat sikap ayahku sedikit melunak. Aku memeluk lengannya lebih erat, dan membenamkan wajahku disana. Aku sungguh berterima kasih padanya.
      “Lebih baik berikan saja putrimu untukku. Aku dapat membuatnya jauh lebih menikmati hidup. Memang aku tak sekaya kau, aku mungkin saja tidak selalu dapat memenuhi keinginannya, tapi setidaknya aku punya sesuatu yang tidak dapat kau berikan,” lanjutmu. Setiap detail katamu selalu kurekam jelas di otakku. Kau mencium puncak kepalaku dengan lembut. Satu lagi kenangan indah yang kau tanamkan di hidupku.
      “Tak usah banyak bicara!!” DOR!! Peluru itu meluncur dan pas mengenai perutmu. Darah segar mengalir deras dari sana, dan kau jatuh tersungkur. Aku mencoba memanggil-manggil namamu, namun kau hanya tersenyum, dan.... TIDAK!!
      Air mataku tumpah! Bukan lagi karena terharu, tapi karena takut. Aku takut hal buruk terjadi. Aku menyesal! Seandainya saja aku tetap diam di rumah, hal ini tidak akan terjadi. Aku memang bodoh, juga terlalu pengecut! Aku terlalu takut untuk melawan ayahku. Aku malah membiarkanmu membelaku sendirian. Maaf!
      “Ayah, ia benar! Aku manusia, bukan hewan. Aku hanya butuh kebebasan, dan aku punya hak untuk itu. Kalau ayah memang menyayangiku, pasti ayah juga akan memikirkan perasaanku. Ayah pasti tak tahu sudah seberapa sering aku menangis, dari aku berumur 5 tahun sampai sekarang karena tidak diijinkan bermain keluar. Yang ayah pikirkan hanya diri ayah! Aku tahu ini semua karena ibu. Ayah hanya terlalu trauma. Tapi yakinlah itu semua memang sudah takdir ibu, bukan salah ayah!” Roh keberanian merasuki tubuhku seketika. Aku tak bisa terus seperti ini. Ia memang ayahku, namun ini hidupku. Ia sudah cukup keterlaluan!
      “Aku hanya ingin bebas. Kenapa kau tidak sekalian bunuh aku saja, daripada aku harus hidup tanpa bisa bergerak bebas?” lanjutku sambil terisak.
      Aku memandang wajahmu yang sedang terkulai lemah. Darah yang berceceran semakin banyak. “Terima kasih,” bisikku, lalu kucium keningmu.


24 Maret 2009.
      Aku memandangi gundukan tanah merah yang ada di hadapanku. “Frisko Zauradi,” bisikku ke dekat nisanmu. Aku ingin melanjutkan kata-kataku, tapi rasanya sulit. Persediaan air mataku pun rasanya sudah habis, tidak menyisakan setetes pun.
      “Ia pemuda yang baik, aku telah salah menilainya. Aku juga telah bersalah kepadamu,” ucap ayahku. Aku hanya membalas dengan sebuah senyuman kecil kepadanya. Ia menyenderkan kepalaku di dadanya, sambil menangis. Ayah memang terlihat sangat menyesal.
      Ya, kau tahu? Ayahku telah berubah. Aku tidak lagi dikekang. Kini aku bebas, dan kebebasan itu diberi olehmu. Kau yang membelaku sampai akhir, dan akhirnya memberiku keberanian. Kau seperti guardian angelku, yang selalu menjagaku. Walaupun cerita hidup kita berdua hanya terjalin beberapa hari. Tapi yakinlah, cerita itu akan aku simpan di ruang khusus di hatiku. Selamanya akan aku ingat. Terima kasih!

The End

Cuap-cuap bentar :
Ini cerpen aku bikin pas 2 hari menjelang deadline. Karena terburu-buru, akhirnya ide yang muncul langsung aku tulis tanpa persiapan, en plot, atau apalah itu namanya. Makanya kesannya pas aku baca ulang kok acak-acakan ya? Hehehe.. Sebenarnya sih aku Cuma mau coba-coba bikin cerpen dengan gaya penulisan yang agak berbeda gitu.. Maaf kalau jadinya aneh, jelek, gak jelas, apalagi ceritanya yang rada-rada gak nyambung. Endingnya juga... jelek, en terlalu singkat.. J Makasih buat para admin yang udah ngadain lomba. Menang gak menang... gak apa-apa deh, hahaha... Yang penting kritik, dan sarannya ajah.. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar