Aku berdiri diambang kerapuhanku. Aku
merbangkan sesak yang terasa didadaku. Ia telah pergi meninggalkanku. Ia telah
lenyap dari hadapanku dan meninggalkan luka dihatiku. Perlahan aku memasukkan
semua sampah kenangan itu kedalam kantong besar. Walau sedikit perih, tapi aku
harus membuat boneka teddy bear yang besar itu dari hadapanku. Saat tanganku
memasukan itu satu persatu. Satu foto membuat kenangan itu seakan berputar di
benakku. Kenangan saat aku bersamanya di bali.“Sayang, sini.” Teriaknya. Aku
masih terlihat asik di pinggir pantai duduk berteduh dibawah pohon. Aku takut,
jika aku keluar kulit putihku akan terbakar mendadak. Aku menggelengkan kepala
tanda tak setuju untuk berjemur dibawah sinar matahari yang ia lakukan. Walau
air pantai itu sedikit menggiurkan.
Karena aku tak juga
beranjak, ia pun berlari kearahku. Dengan cepat ia mengangkatku dan membawaku
ke air pantai yang menggiurkan itu.
“Gilang!” Bentakku manja saat ia
menjeburkan aku ke air pantai. Dengan usil ia tertawa dengan penderitaanku.
“Lagian kamu, kamu yang pengen ke Bali.
Kamunya malah duduk-duduk doang dipasir.” Protesnya. Aku pun cemberut karena
melihatnya tak henti menertawakanku.
“Iya… iya… sorry.” Sautnya seraya
membantuku berdiri. Belum tegap ia berdiri, ingin rasanya aku balas dendam.
Dengan cepat aku mendorongnya dan membuatnya tersungkur di air pantai yang
basah.
Saat
itu kami tertawa terbahak, tak memperdulikan dunia. Tak perdulikan apa yang
akan terjadi nanti. Hanya ada tawa dan cinta yang menemani kami saat itu.
Beberapa saat aku kembali kedalam kesadaranku, airmata yang aku tahan
mati-matian, telah jatuh perlahan dipipiku. Aku hapus airmata itu dan kembali
membenahi sampah-sampah kenangan itu. Aku berjalan keluar untuk membuangnya ke
tong sampah depan kosanku. Kursi depan kosanku membuatku terhenti. Kembali satu
story membuatku terhenti. Ia duduk dibangku itu dengan senyum ramah, senyum
teduh dan membuat senyumku perlahan pun mengembang dipipi.
“Udah siap?” Tanyanya, aku pun
mengangguk. Dengan lembut ia menggandeng tanganku dan membawanya kemotor yang
terparkir melintang didepan kosanku.
Ia menantang angina yang terasa ingin
marah hari ini. Udah mendung membuatku sedikit cemas. Kampus kami masih lumayan
jauh dari tempat kami saat ini. Setiap ada celah dan jalan kecil, terus di trobos
dan tak diperdulikannya.
Hingga
rintikan hujan mulai turun. Gilang menepikan motornya di tempat teduh. Dengan
cepat ia menanggalkan jaketnya dan menyampirkannya ditubuhku. Dengan lembut dan
penuh cinta. Ntah apa yang membuatku berani menyentuh pipinya dengan bibirku
disaat wajahnya tak seberap jauh didepanku. Senyum itu terpancar dibibirnya.
Dengan lembut ia membelai rambutku dan kembali naik ke motornya dan melanjutkan
perjalanannya. Kali ini tak ada ampun lagi, semua diterobosnya. Makian orang
hanya disambut dengan raungan motornya yang semakin kencang dan membuat
sipemaki itu malah meluncurkan kata-kata yang teramat manis untuknya.
“Gilang! Kamu jangan kaya gitu dong!
Orang pada mikir kamu orang jahat tau!” rutukku kesal. Ia tak bisa menjawab
perkataanku. Konsentrasinya tertuju pada jalanan dan mata kuliah yang akan
segera mulai. Suara kucing menyadarkanku dan melanjutkan langkahku
Mungkin kalian akan bertanya-tanya
kenapa aku melakukan ini. Dengan sebuah cerita cinta indah yang aku kenang tadi.
Semua ini setelah dua lalu yang lalu. Dihari aku memilih untuk meninggalkannya
dan pergi dari hidupnya. Ia berdiri manis di depan kelasku. Ciuman mesrah pun
mendarat dipipiku saat itu, masih terasa hangat dipipiku sekarang. Ia membawaku
kekantin, disana ia duduk dengan santai. Tanpa ada rasa cemas ataupun takut. Dengan
santai ia mengatakan satu hal padaku. Satu kata yang membuatku membencinya,
benci yang benar-benar benci. Dan untuk selamanya aku tak ingin menatapnya
lagi!
“Kita udah gak cocok, kita putus aja ya.
Kamu pasti dapet cowok yang lebih baik dari aku.” Kata-katanya sangat santai
sampai aku fikir ia bercanda. Dengan tawa tergelak didadaku dan membuat wajahku
memerah.
“Kamu itu becandanya ada-ada aja deh!
Kalau tadi aku keselek gimana?” Rutukkan disertai tawa itu membuat wajah
mengerah dan serius.
“Aku gak bercanda, aku serius.”
Jawabnya. Aku sedikit mengernyitkan keningku. Ada rasa sebal dengan lelucon
yang ia buat. Namun ntah darimana datangnya cewek berhak tinggi itu. Tiba-tiba
saja ia merangkul bahu Gilang dari belakang dan mencium pipinya halus.
Tak
bisa aku pungkiri hatiku mendidih saat itu. Ditambah lagi, hanya dengan
kata”selamat tinggal” dari Gilang menambah sesak dadaku. Apa salahku sampai ia
menghianatiku? Apa dosaku? Apa ini balasan dari cinta yang kuberikan padanya?
Aku
melangkah kedalam kampus tanpa semangat. Jika bisa, aku ingin keluar dari
kampus ini untuk melepaskan semua kenangan Gilang bersamanya. Namun bagaimana
bisa? Kuliahku tinggal beberapa bulan lagi. Dan jika aku keluar, bagaimana
dengan usaha kedua orang tuaku yang membanting tulang untuk biaya kuliahku. Aku
bukan seperti Gilang yang bisa mendapatkan apapun hanya dengan sekali jentingan
tangannya. Berkali-kali aku menggelengkan kepalaku, menepis bayanganku tentang
Gilang.
Jadwal
hari ini terasa panjang, panasnya udara dan ac yang terasa hembusan angin tak
berguna, membuat aku dan beberapa anak-anak geram. Dosen pun seakan tak mau
perduli dengan nasib kami yang sudah seperti pengembara dipadang pasir. Hingga
jam akhir tanpa mendengarkan kata-kata dari dosen lagi, aku dan beberapa teman
segera keluar kelas dan menuju kantin yang memberikan banyak pilihan kesegaran.
Dari es kelapa, es doger, es teh yang paling murah sekalipun air es.
“Fen, ada titipan nih.” Kata Ria, dia
bukan temanku, kami hanya satu falkutas dan sering tegur sapa.
“Dari siapa?” Tanyaku malas. Tatapanku
masih tertuju es kelapa yang benar-benar membuat tenggorokanku terasa ada
disurga.
“Gak tau, tadi ada cewek bilang titip
ini buat lo. Ya karena gue kenal lo ya gue ambil.” Jawab Ria santai.
“Emang lo yakin yang di maksud tuh orang
Feni gue? Kan Feni banyak.” Jawabku lagi.
“Yakinlah, orang dia bilang sama gue.
Fenia larasati fakultas akuntansi.” Jawabannya membuatku yakin surat itu
untukku. Dengan sedikit malas aku mengambil dan membuka lembar kertas itu.
Bagai kuntum bunga, kau hadir merekah
dihatiku
Tak memperdulikan suara ombak yang
bergemuruh ataupun halilintar
Kau hanya tersenyum mekar dihati dan
menyirami hatiku yang telah lama beku
Kau adalah bungaku, bunga jiwaku yang
tanpa henti bersinar
(
love you: prince dream)
Mataku
terbelalak menatap puisi singkat itu. Siapa dia? Dan kenapa dia tiba-tiba
mengirim surat ini? Apa ia tahu pupusnya hubunganku dengan Gilang? Tapi jika
ia, kenapa ia tak menemuiku secara terang-terangan? Kenapa harus dengan surat
ini? Apa benar dia menyukaiku? Atau hanya memujaku?
Tak
mau terus terbuai dengan pernyataan-pernyataan itu. aku taruh kertas itu di
meja samping gelas es kelapaku. Malas memikirkan pecundang yang beraninya dari
belakang tanpa menemuiku secara terang-terangan. Tapi jujur, aku senang dengan
puisi itu. Gilang tak pernah memberikanku puisi. Karena ia memang tak bisa.
Namun ia sering memberi sureprise yang membuatku bahagia dan merasa menjadi
seorang wanita. Ya tuhaaaan…. Bayangan dia lagi! apa yang harus aku lakukan
pada diriku agar ia bisa pupus dari benak, angan dan khayalku? Tik…tik…tik…
suara rintikkan hujan jatuh bersamaan dengan rintikkan airmataku. Dengan cepat
aku membenahi barangku dan meninggalkan es kelapaku dan berlari kekamar mandi.
Aku tak ingin ada yang melihat kerapuhanku setelah berpisah dengan Gilang. Jika
ada kata selain hancur, aku akan pilih kata itu untuk mengutarakan hatiku saat
ini. Rapuh, sakit dan pedih itu semua tak cukup. Ia memang bukan cinta
pertamaku. Tapi, ialah yang pertama menyentuh hatiku. Hanya ia yang mengerti
dan tau caranya membuatku menjadi seorang wanita. Ia bisa mengendalikan emosiku
dan tau caranya meredam amarahku. Hanya ia… hanya ia… hanya ia…Aku terjatuh
ditoilet yang sudah aku kunci. Airmataku sudah bagaikan keran yang bocor.
Merintik tanpa henti. memberikan sesak didada dan menambah luka yang kutanam
dihatiku.
Aku
mencoba melupakan surat itu. Namun, si secret admier itu semakin gencar.
Setelah memberi surat kemarin, kini bunga mawar putih dan terselip sebuah kata
dibunga-bunga itu.
Bunga
mawar putih, melambangkan cinta putih. Seputih hatiku padamu. Jagalah hatiku,
untuk mengenang cinta yang tak bisa aku utarakan.
Dan
lain waktu lagi, ia mengirimi aku sekotak coklat. Coklat manis yang sedikit
terasa pahit. Seperti apa yang ia tulis. Coklat
adalah cinta. Terasa manis, namun terkadang sedikit pahit. Semakin lama aku
penasaran. Siapa sebenarnya pemuda ini? Dari semua anak-anak yang dititpkan
barang-barang itu, ia memberikannya didepan gerbang saat jam kosong. Kini aku
berdiri didepan gerbang itu. bersembunyi dibalik pohon besar, benar kata Ria
dan semua cewek-cewek yang ia titipkan. Yang menitipkannya adalah seorang
gadis. Namun aku tak bisa melihatnya. Wajahnya tertutup topi hitam dan bajunya
yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah ia pergi, aku pun mendekati gadis yang
dititipi itu, aku ambil sebuah kotak berwarna merah. Perlahan aku buka, cincin?
Aku tatap cincin itu. cincin yang tak asing dimataku, hati dan fikiranku.
Selamanya takkan pernah terlupakan.
Hari
itu aku pergi bersama Gilang, ia memelukku erat dan sesekali menciumi kening
dan terkadang pipiku. Tak sering pula ia mencuri waktu mengecup bibirku. Tak
sengaja kami melewati sebuah toko perhiasan. Dari depan terlihat satu cincin
tunangan yang sangat cantik dan menarik mataku.
“Suatu hari nanti, aku akan pasang
cincin itu ditanganmu.” Perkataan Gilang membuatku termenung, terkejut dan
sedikit terpana.
“Aku akan tunggu saat itu.” Jawabku
dengan wajah memerah. Perlahan Gilang mengecup keningku. Tapi tidak seperti
tadi, kecupan yang mempunyai arti dan takkan pernah terlupakan. Tak
memperdulikan wajah bingung gadis itu, dengan menahan airmata. Aku berlari
mengejar gadis itu. Mataku berkeliaran mencari sosok itu. Ia baru akan
mengendarai mobilnya. Sepertinya ia juga baru mengalirkan tangisnya. Dengan
cepat aku berlari untuk menghentikannya. Aku lihat keterkejutan dimatanya
melihatku dan airmataku. Dengan sangat yakin, dia adalah gadis yang memeluk
Gilang saat itu. Dia adalah gadis yang membuat hubunganku hancur. Namun, kenapa
sekarang ia memberikan barang-barang itu? Dan cincin itu? Ada apa sebenarnya?
Apa yang Gilang dan gadis ini mainkan? Drama macam apa? Apakah aku pemeran
bodoh yang tahu apa-apa?
€€€
Airmataku
mengering, tak ada lagi airmata dipipiku. Aku hanya bisa menatap wajah tak
berdaya dihadapanku. Wajah yang dulu terlihat tampan dengan senyum menawan.
Kini terbaring lemah diatas kursi roda.
“Gilang
sakit.” Jawab gadis itu dengan isak tangis yang tertahan.
“Sakit?
Sakit apa? Dia selalu terlihat sehat.” Jawabku tak percaya.
“Itukan
yang lo liat? Dia selalu nahan rasa sakit didepan lo. Dia gak mau, orang yang
seharusnya ngelindungin lo malah harus meminta pertolongan lo.” Jawabnya.
Kerlingan matanya menulari mataku. Rintikkanku pun terjatuh. Menemani
tangisnya.
“Tapi…
tapi… dia… sakit apa?” Tanyaku perlahan.
“Kelainan
ginjal. Itu penyakit dia dari kecil. Dia udah pasrah dengan rasa sakit itu. Dan
terkadang dia sering ngeluh pengen buru-buru mati. Tapi, karena lo. Karena ada
lo. Dan cincin itu, lo tau kapan dia beli cincin itu?” Tanya membuatku
menggeleng.
“Dari
hari pertama kalian ngeliat cincin itu.” jawabnya, membuat airmataku semakin
deras. Aku berlutut mesejajarkan tubuhku dengannya.
Airmatanya keluar, ada kerinduan sepertiku. Airmataku telah habis. Dengan
perlahan aku peluk tubuhnya yang semakin kurus.
“ Jangan pernah tinggalin aku lagi. kamu
udah sering jadi pelindungku. Dan sekarang. Ijinin aku untuk jadi pelindung
kamu.” Aku rasakan pelukkannya erat ditubuhku.
“Maafin aku.” Bisikan lirihnya membuat
aku menghembuskan nafas berat dan menyenderkan kepalaku pada bahu yang aku
rindukan
Tiffany balweel/ lulu fadhilah balweel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar