Halaman

25 Juni 2012

Only you



Aku berdiri diambang kerapuhanku. Aku merbangkan sesak yang terasa didadaku. Ia telah pergi meninggalkanku. Ia telah lenyap dari hadapanku dan meninggalkan luka dihatiku. Perlahan aku memasukkan semua sampah kenangan itu kedalam kantong besar. Walau sedikit perih, tapi aku harus membuat boneka teddy bear yang besar itu dari hadapanku. Saat tanganku memasukan itu satu persatu. Satu foto membuat kenangan itu seakan berputar di benakku. Kenangan saat aku bersamanya di bali.“Sayang, sini.” Teriaknya. Aku masih terlihat asik di pinggir pantai duduk berteduh dibawah pohon. Aku takut, jika aku keluar kulit putihku akan terbakar mendadak. Aku menggelengkan kepala tanda tak setuju untuk berjemur dibawah sinar matahari yang ia lakukan. Walau air pantai itu sedikit menggiurkan.
         
Karena aku tak juga beranjak, ia pun berlari kearahku. Dengan cepat ia mengangkatku dan membawaku ke air pantai yang menggiurkan itu.
“Gilang!” Bentakku manja saat ia menjeburkan aku ke air pantai. Dengan usil ia tertawa dengan penderitaanku.
“Lagian kamu, kamu yang pengen ke Bali. Kamunya malah duduk-duduk doang dipasir.” Protesnya. Aku pun cemberut karena melihatnya tak henti menertawakanku.
“Iya… iya… sorry.” Sautnya seraya membantuku berdiri. Belum tegap ia berdiri, ingin rasanya aku balas dendam. Dengan cepat aku mendorongnya dan membuatnya tersungkur di air pantai yang basah.


          Saat itu kami tertawa terbahak, tak memperdulikan dunia. Tak perdulikan apa yang akan terjadi nanti. Hanya ada tawa dan cinta yang menemani kami saat itu. Beberapa saat aku kembali kedalam kesadaranku, airmata yang aku tahan mati-matian, telah jatuh perlahan dipipiku. Aku hapus airmata itu dan kembali membenahi sampah-sampah kenangan itu. Aku berjalan keluar untuk membuangnya ke tong sampah depan kosanku. Kursi depan kosanku membuatku terhenti. Kembali satu story membuatku terhenti. Ia duduk dibangku itu dengan senyum ramah, senyum teduh dan membuat senyumku perlahan pun mengembang dipipi.
“Udah siap?” Tanyanya, aku pun mengangguk. Dengan lembut ia menggandeng tanganku dan membawanya kemotor yang terparkir melintang didepan kosanku.
Ia menantang angina yang terasa ingin marah hari ini. Udah mendung membuatku sedikit cemas. Kampus kami masih lumayan jauh dari tempat kami saat ini. Setiap ada celah dan jalan kecil, terus di trobos dan tak diperdulikannya.
         
          Hingga rintikan hujan mulai turun. Gilang menepikan motornya di tempat teduh. Dengan cepat ia menanggalkan jaketnya dan menyampirkannya ditubuhku. Dengan lembut dan penuh cinta. Ntah apa yang membuatku berani menyentuh pipinya dengan bibirku disaat wajahnya tak seberap jauh didepanku. Senyum itu terpancar dibibirnya. Dengan lembut ia membelai rambutku dan kembali naik ke motornya dan melanjutkan perjalanannya. Kali ini tak ada ampun lagi, semua diterobosnya. Makian orang hanya disambut dengan raungan motornya yang semakin kencang dan membuat sipemaki itu malah meluncurkan kata-kata yang teramat manis untuknya.
“Gilang! Kamu jangan kaya gitu dong! Orang pada mikir kamu orang jahat tau!” rutukku kesal. Ia tak bisa menjawab perkataanku. Konsentrasinya tertuju pada jalanan dan mata kuliah yang akan segera mulai. Suara kucing menyadarkanku dan melanjutkan langkahku
         
Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa aku melakukan ini. Dengan sebuah cerita cinta indah yang aku kenang tadi. Semua ini setelah dua lalu yang lalu. Dihari aku memilih untuk meninggalkannya dan pergi dari hidupnya. Ia berdiri manis di depan kelasku. Ciuman mesrah pun mendarat dipipiku saat itu, masih terasa hangat dipipiku sekarang. Ia membawaku kekantin, disana ia duduk dengan santai. Tanpa ada rasa cemas ataupun takut. Dengan santai ia mengatakan satu hal padaku. Satu kata yang membuatku membencinya, benci yang benar-benar benci. Dan untuk selamanya aku tak ingin menatapnya lagi!
“Kita udah gak cocok, kita putus aja ya. Kamu pasti dapet cowok yang lebih baik dari aku.” Kata-katanya sangat santai sampai aku fikir ia bercanda. Dengan tawa tergelak didadaku dan membuat wajahku memerah.
“Kamu itu becandanya ada-ada aja deh! Kalau tadi aku keselek gimana?” Rutukkan disertai tawa itu membuat wajah mengerah dan serius.
“Aku gak bercanda, aku serius.” Jawabnya. Aku sedikit mengernyitkan keningku. Ada rasa sebal dengan lelucon yang ia buat. Namun ntah darimana datangnya cewek berhak tinggi itu. Tiba-tiba saja ia merangkul bahu Gilang dari belakang dan mencium pipinya halus.

          Tak bisa aku pungkiri hatiku mendidih saat itu. Ditambah lagi, hanya dengan kata”selamat tinggal” dari Gilang menambah sesak dadaku. Apa salahku sampai ia menghianatiku? Apa dosaku? Apa ini balasan dari cinta yang kuberikan padanya?

          Aku melangkah kedalam kampus tanpa semangat. Jika bisa, aku ingin keluar dari kampus ini untuk melepaskan semua kenangan Gilang bersamanya. Namun bagaimana bisa? Kuliahku tinggal beberapa bulan lagi. Dan jika aku keluar, bagaimana dengan usaha kedua orang tuaku yang membanting tulang untuk biaya kuliahku. Aku bukan seperti Gilang yang bisa mendapatkan apapun hanya dengan sekali jentingan tangannya. Berkali-kali aku menggelengkan kepalaku, menepis bayanganku tentang Gilang.

          Jadwal hari ini terasa panjang, panasnya udara dan ac yang terasa hembusan angin tak berguna, membuat aku dan beberapa anak-anak geram. Dosen pun seakan tak mau perduli dengan nasib kami yang sudah seperti pengembara dipadang pasir. Hingga jam akhir tanpa mendengarkan kata-kata dari dosen lagi, aku dan beberapa teman segera keluar kelas dan menuju kantin yang memberikan banyak pilihan kesegaran. Dari es kelapa, es doger, es teh yang paling murah sekalipun air es.
“Fen, ada titipan nih.” Kata Ria, dia bukan temanku, kami hanya satu falkutas dan sering tegur sapa.
“Dari siapa?” Tanyaku malas. Tatapanku masih tertuju es kelapa yang benar-benar membuat tenggorokanku terasa ada disurga.
“Gak tau, tadi ada cewek bilang titip ini buat lo. Ya karena gue kenal lo ya gue ambil.” Jawab Ria santai.
“Emang lo yakin yang di maksud tuh orang Feni gue? Kan Feni banyak.” Jawabku lagi.
“Yakinlah, orang dia bilang sama gue. Fenia larasati fakultas akuntansi.” Jawabannya membuatku yakin surat itu untukku. Dengan sedikit malas aku mengambil dan membuka lembar kertas itu.

Bagai kuntum bunga, kau hadir merekah dihatiku
Tak memperdulikan suara ombak yang bergemuruh ataupun halilintar
Kau hanya tersenyum mekar dihati dan menyirami hatiku yang telah lama beku
Kau adalah bungaku, bunga jiwaku yang tanpa henti bersinar
                                                                             ( love you: prince dream)
         
          Mataku terbelalak menatap puisi singkat itu. Siapa dia? Dan kenapa dia tiba-tiba mengirim surat ini? Apa ia tahu pupusnya hubunganku dengan Gilang? Tapi jika ia, kenapa ia tak menemuiku secara terang-terangan? Kenapa harus dengan surat ini? Apa benar dia menyukaiku? Atau hanya memujaku?

          Tak mau terus terbuai dengan pernyataan-pernyataan itu. aku taruh kertas itu di meja samping gelas es kelapaku. Malas memikirkan pecundang yang beraninya dari belakang tanpa menemuiku secara terang-terangan. Tapi jujur, aku senang dengan puisi itu. Gilang tak pernah memberikanku puisi. Karena ia memang tak bisa. Namun ia sering memberi sureprise yang membuatku bahagia dan merasa menjadi seorang wanita. Ya tuhaaaan…. Bayangan dia lagi! apa yang harus aku lakukan pada diriku agar ia bisa pupus dari benak, angan dan khayalku? Tik…tik…tik… suara rintikkan hujan jatuh bersamaan dengan rintikkan airmataku. Dengan cepat aku membenahi barangku dan meninggalkan es kelapaku dan berlari kekamar mandi. Aku tak ingin ada yang melihat kerapuhanku setelah berpisah dengan Gilang. Jika ada kata selain hancur, aku akan pilih kata itu untuk mengutarakan hatiku saat ini. Rapuh, sakit dan pedih itu semua tak cukup. Ia memang bukan cinta pertamaku. Tapi, ialah yang pertama menyentuh hatiku. Hanya ia yang mengerti dan tau caranya membuatku menjadi seorang wanita. Ia bisa mengendalikan emosiku dan tau caranya meredam amarahku. Hanya ia… hanya ia… hanya ia…Aku terjatuh ditoilet yang sudah aku kunci. Airmataku sudah bagaikan keran yang bocor. Merintik tanpa henti. memberikan sesak didada dan menambah luka yang kutanam dihatiku.

          Aku mencoba melupakan surat itu. Namun, si secret admier itu semakin gencar. Setelah memberi surat kemarin, kini bunga mawar putih dan terselip sebuah kata dibunga-bunga itu.
Bunga mawar putih, melambangkan cinta putih. Seputih hatiku padamu. Jagalah hatiku, untuk mengenang cinta yang tak bisa aku utarakan.

          Dan lain waktu lagi, ia mengirimi aku sekotak coklat. Coklat manis yang sedikit terasa pahit. Seperti apa yang ia tulis. Coklat adalah cinta. Terasa manis, namun terkadang sedikit pahit. Semakin lama aku penasaran. Siapa sebenarnya pemuda ini? Dari semua anak-anak yang dititpkan barang-barang itu, ia memberikannya didepan gerbang saat jam kosong. Kini aku berdiri didepan gerbang itu. bersembunyi dibalik pohon besar, benar kata Ria dan semua cewek-cewek yang ia titipkan. Yang menitipkannya adalah seorang gadis. Namun aku tak bisa melihatnya. Wajahnya tertutup topi hitam dan bajunya yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah ia pergi, aku pun mendekati gadis yang dititipi itu, aku ambil sebuah kotak berwarna merah. Perlahan aku buka, cincin? Aku tatap cincin itu. cincin yang tak asing dimataku, hati dan fikiranku. Selamanya takkan pernah terlupakan.

Hari itu aku pergi bersama Gilang, ia memelukku erat dan sesekali menciumi kening dan terkadang pipiku. Tak sering pula ia mencuri waktu mengecup bibirku. Tak sengaja kami melewati sebuah toko perhiasan. Dari depan terlihat satu cincin tunangan yang sangat cantik dan menarik mataku.
“Suatu hari nanti, aku akan pasang cincin itu ditanganmu.” Perkataan Gilang membuatku termenung, terkejut dan sedikit terpana.
“Aku akan tunggu saat itu.” Jawabku dengan wajah memerah. Perlahan Gilang mengecup keningku. Tapi tidak seperti tadi, kecupan yang mempunyai arti dan takkan pernah terlupakan. Tak memperdulikan wajah bingung gadis itu, dengan menahan airmata. Aku berlari mengejar gadis itu. Mataku berkeliaran mencari sosok itu. Ia baru akan mengendarai mobilnya. Sepertinya ia juga baru mengalirkan tangisnya. Dengan cepat aku berlari untuk menghentikannya. Aku lihat keterkejutan dimatanya melihatku dan airmataku. Dengan sangat yakin, dia adalah gadis yang memeluk Gilang saat itu. Dia adalah gadis yang membuat hubunganku hancur. Namun, kenapa sekarang ia memberikan barang-barang itu? Dan cincin itu? Ada apa sebenarnya? Apa yang Gilang dan gadis ini mainkan? Drama macam apa? Apakah aku pemeran bodoh yang tahu apa-apa?
€€€
          Airmataku mengering, tak ada lagi airmata dipipiku. Aku hanya bisa menatap wajah tak berdaya dihadapanku. Wajah yang dulu terlihat tampan dengan senyum menawan. Kini terbaring lemah diatas kursi roda.
“Gilang sakit.” Jawab gadis itu dengan isak tangis yang tertahan.
“Sakit? Sakit apa? Dia selalu terlihat sehat.” Jawabku tak percaya.
“Itukan yang lo liat? Dia selalu nahan rasa sakit didepan lo. Dia gak mau, orang yang seharusnya ngelindungin lo malah harus meminta pertolongan lo.” Jawabnya. Kerlingan matanya menulari mataku. Rintikkanku pun terjatuh. Menemani tangisnya.
“Tapi… tapi… dia… sakit apa?” Tanyaku perlahan.
“Kelainan ginjal. Itu penyakit dia dari kecil. Dia udah pasrah dengan rasa sakit itu. Dan terkadang dia sering ngeluh pengen buru-buru mati. Tapi, karena lo. Karena ada lo. Dan cincin itu, lo tau kapan dia beli cincin itu?” Tanya membuatku menggeleng.
“Dari hari pertama kalian ngeliat cincin itu.” jawabnya, membuat airmataku semakin deras. Aku berlutut mesejajarkan tubuhku dengannya. Airmatanya keluar, ada kerinduan sepertiku. Airmataku telah habis. Dengan perlahan aku peluk tubuhnya yang semakin kurus.
“ Jangan pernah tinggalin aku lagi. kamu udah sering jadi pelindungku. Dan sekarang. Ijinin aku untuk jadi pelindung kamu.” Aku rasakan pelukkannya erat ditubuhku.
“Maafin aku.” Bisikan lirihnya membuat aku menghembuskan nafas berat dan menyenderkan kepalaku pada bahu yang aku rindukan
Tiffany balweel/ lulu fadhilah balweel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar