19 Februari 2009.
Pertama kalinya kita bertemu. Masih ingatkah kau wajah geram si ‘Kakek Sihir’ menyebalkan yang sama-sama kita kerjai waktu itu? Aku sangat menikmati setiap detik yang kurasakan saat itu. Bukan hanya menikmati rasanya membalas dendam kepada orang yang selalu melarang kebebasan kakiku untuk berjalan kemana-mana, tapi juga menikmati genggaman tanganmu ketika kau membawaku kabur dari sangkar emas yang selama ini mengurungku.
Saat itu aku sama sekali tidak berpikir akan suatu hal jahat yang mungkin saja akan kau lakukan padaku ketika kau membawaku pergi. Yang kurasakan saat itu hanya kenyamanan, dan kebebasan yang akhirnya aku dapatkan. Padahal kita baru pertama kali bertemu, namun kau sudah memberikanku sesuatu hal yang sangat aku inginkan dari dulu.
Aku bersyukur pada takdir yang mempertemukan kita. Takdir indah, juga menyenangkan. Takdir yang membawa kau masuk ke rumahku diam-diam untuk mengambil bola basketmu yang melambung terlalu jauh hingga ke halaman rumahku. Takdir yang memberikan rasa penasaran yang tinggi kepadamu untuk mengelilingi sebentar halaman rumahku yang waktu itu kau anggap indah, juga menakjubkan. Takdir yang menuntun kedua kakimu untuk sampai ke dekat kamarku, dan akhirnya kau melihat aku yang sedang berurai air mata di dekat jendela. Kau mendekat, dan bertanya padaku apa yang terjadi, dan saat itu untuk pertama kalinya aku punya seseorang untuk berbagi cerita. Beban yang kurasakan akhirnya berkurang untuk pertama kalinya. Semua tetes air mata yang aku jatuhkan setiap aku bercerita, selalu kau hapus dengan jemari tanganmu. Setiap kata demi kata yang menunjukkan kekesalanku pada peraturan yang mengikat selalu kau sahuti dengan kalimat yang mampu membuatku tertawa. Kau memang pendengar, sekaligus penghibur yang baik. Terima kasih!




